
Tak ada kesenangan malam ini
Singkat kata singkat cerita, malam itu Persib Bandung main buruk, Persija pantas menang. Setelah itu saya dan 4 orang rekan lagi dari GP janjian untuk mengisi perut kosong ini di rumah Irfan di Antapani. Membahas kekalahan Maung dari macan, ikut nimbrung juga para keluarga Irfan –yang jika Persib maen, maka seisi rumahnya pindah ke siliwangi–, sesekali bercanda kecil, lalu kita menikmati hasil-hasil jepretan Irfan dari pinggir lapang, abis itu nasgor lada yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.
Tak terasa sudah hampir tengah malam. Irfan harus melanjutkan perjalanan ke Cirebon, tempat kerjanya. Sementara kang Hevi nebeng sampe dangdeur, kang Otto dipastikan pulang ke rumahnya, kang Abenk juga menuju Kostan nya di daerah buahbatu.
Di motor, badan dan kepalaku sudah terasa berat. Jarak perjalanan masih jauh, pilhannya : antara Cimahi atau Gegerkalong. Tanpa pikir panjang, saya memutuskan bahwa malam ini tujuan pulang saya adalah kostannya kang Abenk.
Sampai sana, saya langsung merebahkan diri ke kasur sempit itu. Dan sialnya kekalahan ini bukan hanya kekalahan biasa. Terlalu pedih, karena kejadian lainnya pun membuat hati ini sedih. Berusaha bernafas tenangpun harus dengan perjuangan, ditambah bersin yang terus menerus meletus. Saya tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini.
Sementara Abenk, badan cekingnya dilantai, kepalanya ditahan guling, menonton film cinta remaja di SCTV, dengan senyuman berkembang. Saya tahu alasannya, Aisyah –kita cukup gaul dan tentu saja imajinatif untuk menyebutnya dengan nama itu–, walaupun tidak sempat berkenalan, wanita berkerudung itu telah membuatnya ceria di tribun samping utara siliwangi.
Bagaimana bisa? tanyaku dalam hati. Papan skor di sisi timur menunjukan angka 2-3. Lawan kita malam ini adalah Persija. Dan chaos bobotoh nyata tersaji dihadapan kita. Terlalu banyak alasan pahit yang setidaknya bukan senyuman itu yang terus ada raut wajahnya.
Itulah dia, dan inilah saya.
Sampai detik ini, jarak saya dengan kasur masih kurang dari sekitar 2 meter. Flu dan batuk memang sudah mereda tapi badan dan jiwa ini seakan masih butuh waktu recovery yang cukup. Mengapa setiap setelah kejadian ini –baca : kalah dari si jeruk–, aktifitasku menurun tajam, seakan ini adalah jaman orba, dimana pikiranku memerintahkan seluruh pekerja keras dalam tubuhku untuk cuti bersama.
Requested :
Aisyahnya kenalin donk……:)
Ntar kalo nemu lagi di Jalak Harupat. Hehehehe…
ngabubungah sorangan we atuh euy..
meni teu meunang seuri..huehue
di luar mah urang bisa keneh seuri,
tapi na jero hate mah..
ceurikkkkkkkk!!