Posted on 30-09-2008
Filed Under (film) by Adrian Priambudi

laskar pelangi the movie photo still (23) by laskarpelangithemovie.

Akhirnya saya menonton juga film ini, dan lega. Lega karena adegan ceritanya tidak percis sama dengan novelnya, walaupun secara garis besarnya sama saja. Berbeda karena jika di novelnya, Laskar pelangi adalah tentang laskar pelangi dan guru-gurunya dengan backgound pendidikan, maka di filmnya adalah kebalikannya, ini adalah pendidikan dengan background orang-orang hebat dalam SD Muhammadiyah.

Pada film ini, saya melihat bahwa Riri sebagai sutradara sangat mengutamakan kekuatan karakter tokoh-tokoh utama. Tentunya, sesuai dengan kekuatan novelnya.

Pak Harfan yang diperankan oleh Ikranagara sangat berwibawa sebagai kepala sekolah SD muhammadiyah. Adegan dimana Pak Harfan dan Pak Zulkarnaen (oleh Slamet Haharjo) berdiskusi tentang masa depan sekolahnya adalah salah satu nyawa film ini.

“Pak Zul, Kecerdasan bukan hanya dilihat dari nilai-nilai dan angka-angka, tapi dari hati.”

Mungkin sebagai seorang teater senior, ada beberapa adegan yang terlalu teater, namun itu tidak begitu mengganggu.

Cut Mini Theo disini sangat saya tunggu perannya. Dulu, pertama kali saya lihat dia ada dalam video klip Andre Hehanusa, dan akhir-akhirnya banyak pula muncul di televisi dengan logat melayu, sedangkan Bu Muslimah adalah tokoh paling penting dalam cerita ini. Karena pada awalnya, cerita Laskar Pelangi adalah sebuah karya persembahan Andrea Hirata untuk didedikasikan kepada gurunya ini. Maka wajarlah banyak nada pesimis dari calon penonton.

Dan hasilnya, ternyata Cut Mini dapat memutar balikkan prediksi banyak orang. Luar biasa! Bravo! Seperti ketika pertama kali saya lihat beliau di Kick Andy pada episode Laskar Pelangi, ia sangat menghayati perannya, sangat larut dalam kepribadian Bu Muslimah. Cut Mini akan meraih penghargaan dalam banyak festival yang diikuti. Kredit juga diberikan kepada tim make up film ini yang berhasil menjadikan Cut mini dan Alex Komang sebagai orang bersahaja.

Yang agak saya sesali difilm ini adalah ketika dia menghadapi kenyataan bahwa Pak Harfan akhirnya tiada. Kok tidak tegar lagi? Mungkin tujuannya adalah untuk menguras emosi penonton ketika ada adegan dimana akhirnya Bu Mus kembali ke kelas dan dipeluk oleh semua muridnya. Ya itu menyentuh, namun dengan mengorbankan ketegaran hati Bu Mus? Dan pula senyum manisnya itu tidak lebih sering muncul daripada murungnya.

Pak Bakrie (Teuku Rifnu Wikana). Kata-katanya menyeimbangkan ketokohan dari para pengajar di SD itu. Jika Pak Harfan dan Bu Muslimah terlihat lebih optimis, maka Pak Bakrie ini lebih realistis, namun tetap saja dihatinya ia adalah guru dari SD Muhammadiyah.

“Apakah kau pernah memikirkan mengapa ini adalah sekolah islam satu-satunya?”

Adegan itu begitu kuat. Membuat semua penontonnya menahan nafas.

12 anak asli belitong dalam pemeran laskar pelangi plus pemeran Flo dan A Ling adalah pilihan yang tepat dari Riri dan Miles untuk film ini. Mereka terlihat begitu asli, begitu belitong. Namun, pemeran A Ling, Flo dan A Kiong terlihat datar dalam akting. Walaupun secara visual terlihat cocok.

Ikal kecil (Zulfanny). Tokoh utama dalam film. Tentu saja Riri sangat selektif untuk memilih peran ini melebihi yang lainnya. Syukurnya, akting Zulfanny memuaskan walaupun dengan kerja keras. Adegan Favorit dari tokoh ini adalah ketika ia dalam keadaan jatuh cinta dibonceng oleh Mahar melewati jembatan. Iya lah, itu adegan yang tidak bisa dilupakan karena sangat orisinil dan lucu.

Lintang (Ferdian). Tokoh ini adalah tokoh yang mendapat porsi lebih banyak daripada 11 anak lainnya. Karena ini berhubungan dengan misi dan pesan Laskar Pelangi. Seorang yang sangat menghargai pentingnya sebuah pendidikan, tak akan ada yang mampu menghalangi tekadnya untuk menimba ilmu, termasuk jarak berkilometer-kilometer. Namun akhirnya ia menyerah oleh keadaan. Keadaan klasik Indonesia, antara makan dan tidak makan. Raut muka lintang disini memang serius dan keras, sesuai dengan sifat dan kemauannya, si pencari ilmu.

Mahar (Verrys Yamarno). Biasanya seorang seniman itu identik dengan energik lagi eksentrik. Begitu pula dengan Mahar, seorang anak dengan bakat kreatif tanpa batas, yang selalu membawa radio bututnya kemanapun sebagai pusat inspirasi. Hanya saja Verrys dibeberapa adegan terlalu over memerankannya.

“Serahkan saja semua padaku dan alam.”

Itulah Mahar.

Borek (Febriansyah). Haha, sosok ini mengingatkan saya akan teman main kecil saya di kompleks perumahan. Terobsesi dengan otot, namun dengan gerak gerik kaku dan bentuk muka kotak. Dan seringkali menggunakan kekuatannya dalam bercanda gurau. Haha, sangat nyata.

Harun (Jeffry Yanuar). Kehadiran ini tidak kalah pentingnya dengan peran Pak Harfan. Menghadirkan kesegaran dan kekaguman pada arti mata rantai persahabatan. Bahkan tokoh ini seharusnya menghapus peran Pak Mahmud (Tora Sudiro).

Ya, saya rasa tokoh Pak Mahmud itu hanyalah sampah dari film ini. Adegan pentingnya adalah hanya ketika ia dengan heroiknya mengkoreksi jawaban dewan juri cerdas cermat. Agak membodohi, karena bukankah seharusnya ada banyak guru yang hadir disitu? Yang memang seharusnya ikut menganalisa pertanyaan dan jawaban cerdas cermat? Dan agak ganjil juga ketika hanya pada soal terakhir saja Pak Mahmud ini mengeluarkan kertas dan ballpoint-nya?

Sementara scene-scene nya yang lain hanyalah lirik melirik Bu Muslimah. Tora Sudiro mungkin bersusah payah untuk film ini, namun hasilnya adalah seorang guru negeri yang terlihat bodoh. Alis yang ia turunkan bukannya menghadirkan keprihatinannya kepada Bu Mus, malah membuat saya bertanya, “Kok bisa?” Mungkin Riri disana akan menjawabnya dengan kata “nilai-jual!”

Kritik saya juga terhadap keinginan Riri untuk menghadirkan seluruh unsur yang menarik didalam novel ke dalam Film ini. Seperti adegan buaya secara terus menerus, kaburnya flo, pdkt-nya Pak Mahmud kepada Bu Mus, bertamu ke dukun, dll. Mungkin bisa lebih berarti jika Riri memberikan lebih banyak porsi itu kepada adegan tarian kesenian dan cerdas cermat.

Walaupun durasi film ini diperpanjang, adegan-adegan sampah itu seharusnya tidak ada. Bagaimana dengan pengenalan tokoh-tokoh pentingnya? Bagaimana tentang apa yang diucapkan Riri sendiri bahwa yang perlu dipertahankan adalah substansinya: keajaiban mimpi, marjinalisasi masyarakat, dan ironi dunia pendidikan kita? Bukankah hal itu menjadi kurang mendapat cukup durasi dalam film ini?

Ada juga teknologi kampungan ala sinetron dalam adegan kuku A Ling. Teknologi photo “bola sinar” itu semestinya tidak dipakai oleh filmmaker sekelas Riri. Mungkin jika diganti teknologinya oleh efek “sinar matahari” ketika Gandalf muncul pada pagi hari dari balik bukit, kuku A Ling tidak akan terlihat seperti sinetron komedi. Namun efek jatuhnya bunga tepat ada disitu.

Yang mambanggakan dari film ini adalah sinematografinya yang indah. Seharusnya beginilah film-film indonesia yang banyak beredar di bioskop. Putihnya pantai, birunya lautan, hijaunya hutan, cokelatnya tanah. Bukan gedung-gedung sekolah yang mewah, rumah bertingkat tiga, ataupun kuburan berembun tebal.

Yadi Sugandhi sebagai sinematografi seharusnya mempermudah kerja dinas pariwisata Belitung. Lihatlah dalam adegan dimana pelangi itu muncul, begitu amazing.

Musik-musik dalam film ini juga terlihat menyatu. Terutama pada lagu Sahabat Kecil yang dinyanyikan oleh Ipang. Sebetulnya lagu Laskar Pelangi dari Nidji — sebagai ujung tombak audio — kurang menggambarkan spirit dari film dan novelnya. Kurang nge-beat. Namun cukup OK lah di akhir film.

Maka cukup beralasan jika Andrea Hirata menyebut film ini dengan kata INDAH.

Garis bawah Andrea terhadap pesan dari cerita ini yang menjadi syarat bagi Riri dalam menggarap filmnya mudah-mudahan tersampaikan. Yaitu PENDIDIKAN.

Overall, sejauh ini, Film Laskar Pelangi masih yang terindah di Indonesia. Sedikit mengecewakan untuk fans novelnya karena tidak cukup banyak durasi untuk memvisualisasikan novelnya kedalam film (Sedikit ironis karena sebagian besar orang yang terlibat dalam film ini pastinya adalah penggemar berat novelnya. Terlihat beberapa diantaranya sangat berkonsentrasi dan bekerja keras). Tapi, ayolah, ini karya yang berbeda.

Jadi kesimpulannya, Andrea Hirata karyanya lebih baik daripada Riri Reza. Setuju nggak, Boy!?


Gambar-gambar diambil dari sini…

Comments

wijaya on 30 September, 2008 at 11:47 #

“Hanya saja Verrys dibeberapa adegan terlalu over memerankannya” –> bagian yang mana saja kah, menurut Pak Adrian?
Terima kasih.. :)


Adrian PriambudiNo Gravatar on 30 September, 2008 at 17:47 #

@wijaya
Disaat Mahar terlalu atas mengangkat dagu dan dadanya padahal yang menjadi lawan bicaranya adalah seorang Bu Muslimah. Tergambar sifat arogansi berlebihan menurut saya.

Sedangkan dialognya yang lain bersama laskar pelangi lainnya adalah favorit saya. Seperti ketika ia mengenalkan musik jazz kepada ikal kecil. Hahaha, kocak sekali…


RhanaNo Gravatar on 1 Oktober, 2008 at 10:14 #

wach, aqw ska bgd akting Verrys, dy kcak & okeee bgd,,,pkoknya mju truz y Verrys…


BieNo Gravatar on 3 Oktober, 2008 at 23:49 #

Film ini bnr2 kerENZ bn9d. Menghrukn, percy ato tdk hmpr smua pntn co d bioskop yg sy tnton, menangis. He3


uciddNo Gravatar on 8 Oktober, 2008 at 23:19 #

woh,,,saia jg nangiss
kw0kw0kw0w


[...] laskar pendidikan mengejar pelangi     Read More    [...]


JenkNo Gravatar on 19 Oktober, 2008 at 01:53 #

anjritttt…edun reviewna euy.
bener-bener mengahhayati lahit bathin.

mawa catatan ka bisokop sugan ? :D
Jenks last blog post..Davor Suker


Adrian PriambudiNo Gravatar on 19 Oktober, 2008 at 03:56 #

Hahaha… Emang boleh bawa catetan + bolpen ke dalem studio yah jenk?


JenkNo Gravatar on 19 Oktober, 2008 at 14:14 #

weee….jangan salah kalo di bekasi mah.

jangankan catetan dan bolpen.
bawa harim aja boleh…

:))

Jenks last blog post..Davor Suker


winnyNo Gravatar on 19 Oktober, 2008 at 16:02 #

laskar pelangi ????
wow,,,film yang g kalah hebat dbnding novelny….

I love lintang…..


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: