
Akhirnya saya menonton juga film ini, dan lega. Lega karena adegan ceritanya tidak percis sama dengan novelnya, walaupun secara garis besarnya sama saja. Berbeda karena jika di novelnya, Laskar pelangi adalah tentang laskar pelangi dan guru-gurunya dengan backgound pendidikan, maka di filmnya adalah kebalikannya, ini adalah pendidikan dengan background orang-orang hebat dalam SD Muhammadiyah.
Pada film ini, saya melihat bahwa Riri sebagai sutradara sangat mengutamakan kekuatan karakter tokoh-tokoh utama. Tentunya, sesuai dengan kekuatan novelnya.
Pak Harfan yang diperankan oleh Ikranagara sangat berwibawa sebagai kepala sekolah SD muhammadiyah. Adegan dimana Pak Harfan dan Pak Zulkarnaen (oleh Slamet Haharjo) berdiskusi tentang masa depan sekolahnya adalah salah satu nyawa film ini.
“Pak Zul, Kecerdasan bukan hanya dilihat dari nilai-nilai dan angka-angka, tapi dari hati.”